.:. Kata-Kata Mutiara Hari Ini: "Pergilah keluh, ku tak mau berteman dengamu... Silahkan kesah, kau bukan takdirku... Mujahadah adalah temanku, dakwah adalah nafasku dan Allah adalah kasihku... Maafkan segala kesalahan...Bila Allah mengampuni dosa-dosamu, kamu pasti bertobat...Bila Allah menerimamu, kamu pasti bertaqarrub dengan ikhlas kepada-Nya...Bila Allah mengingatmu, kamu pasti berdzikir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kemuliaan-Nya padamu, kamu pasti merasa hina-dina dihadapan-Nya...Bila Allah hendak mencukupimu, pasti kamu merasa faqir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kekuatan-Nya padamu, pasti engkau lemah tidak berdaya...Bila Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, pasti engkau tak memiliki kemampuan apa-apa...Bila Allah mencintaimu, kamu pasti mencintai-Nya...Bila Allah meridhoimu, engkau pasti ridho terhadap apapun ketentuan-Nya...Bila Allah mengangkat derajatmu, engkau selalu memasuki pintu-pintu taatmu...Bila Allah menghinamu, kamu pasti bermaksiat dan menuruti hawa nafsumu...Taat itu lebih utama dibanding pahalanya...Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya...Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya...Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya...Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya...Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan...Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya...Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan...Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati...Wirid itu lebih utama ketimbang waridnya...Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia " .:. ~~

Get Updates Via Email

Dapatkan update terbaru

dari Blog SufiUnderground langsung ke
Email anda!

PETUAH GIBRAN



Oleh: Muhammad Shobary.
Penyair, sekaligus filusuf, Khalil Gibran bercerita didalam Sang Musafir tentang raja yang bijak dan rendah hati. Suatu hari raja ini didemo rakyatnya, tapi sang raja tetap kalem menghadapi mereka. Hal ini membuat rakyat terpengaruh. “Kawan-kawan ku, yang tak akan menjadi kawanku lagi..,” kata sang raja.” Dengan ini kuserahkan mahkota dan tongkat kerajaanku, aku akan segera menjadi salah seorang diantara kamu..,” katanya lagi. Rakyat diam. Suasana gemuruh mendadak berubah menjadi senyap. Alam penuh pesona ketulusan yang memancar dari jiwa sang baginda.

“kini..,” kata sang raja, “rakyatlah yang menjadi raja.” Baginda siap bekerja keras diladang anggur seperti orang lain agar hidup menjadi lebih enak bagi semua kalangan. Terus terang rakyat menyatakan kekaguman mereka. Tak disangka, begitu mudah raja menyerahkan mahkota dan tongkat kerajaannya. Aneh, kini baginda bekerja seperti mereka diladang. Aneh sekali ! Tetapi tanpa raja, keadaan tetap muram. Kabut kekecewaan tetap menggantung diatas negeri itu. Keadaan kacau lagi. Rakyat gemuruh, mereka mencari sang raja lagi. Kali ini urusannya jelas, raja dinaikkan tahta kembali.

“ Perintahlah kami dengan kekuasaan dan keadilan !,” teriak mereka. Baginda pun berkuasa lagi. Keadaan memang berubah. Hawa keadilan berhembus ke seluruh pelosok negeri. Tiap ada pengaduan rakyat bahwa aparat kerajaan menyimpang, baginda bertindak tegas dan adil. Ukuran keadilan ditentukan atas dasar berapa kadar kejujuran dan pemihakan kepada rakyat. Tiap penyimpangan diluruskan. Para punggawa yang turut dilepas dari jabatannya, rakyat sungguh berdaulat, suara mereka didengar. Mereka puas.

Tapi suatu hari rakyat gemuruh lagi dibawah menara istana. Mereka menyebut-nyebut nama baginda. Dengan anggun baginda muncul didepan mereka. “apa lagi yang hendak kalian inginkan ?,” kata baginda. “tahtaku ingin kalian rebut kembali ?” “Tidaaak, bukan itu..!!!,” teriak mereka. suara gemuruh menggema kelangit. “Engkaulah raja kami, engkaulah teladan membersihkan negeri kita dari ular-ular berbisa dan dari srigala. Maka kami menghadapmu buat menghadiahkan lagu terimakasih. Mahkotamu mulia !, tongkatmu agung !,” teriak rakyat dalam nada suka cita.    


“Bukan ! Bukan ! Engkaulah ! Engkau sekalian raja yang paling sejati. Kita sekarang maju dan itu terus terang, hasil jerih payah kalian semuanya.  Aku cuma sarana bagi cita-citamu. Aku cuma lantaran !,” jawab baginda. “Hidup raja kitaaa.! Hidup raja kitaaa.!,” suara mereka serempak. Baginda masuk, rakyat bubar. Masing-masing merasa memegang mahkota ditangan kiri dan tongkat ditangan kanan. Tapi mahkota dan tongkat yang sebenarnya ada ditangan raja.

Bagaimana pun dunia bukan sorga dan tak mungkin dirubah menjadi sorga. Dunia adalah dunia dan didunia tiap dua orang, atau lebih, bertemu, langsung lahir kepentingan-kepentingan dan pamrih-pamrih. Kepentingan-kepentingan dan pamrih-pamrih tidak otomatis jelek. Tapi bila upaya meraih atau mewujudkan kepentingan dan pamrih-pamrih tadi, orang harus terpaksa berbenturan dengan orang lain. Kelompok yang satu, yang dominant, diatas kelompok yang lain. Dan ketegangan pun dengan demikian akan selalu muncul.
Ketegangan adalah bunga-bunga mekar yang menyemarakkan suasana. Ketegangan mungkin hiasan diwajah politik yang tengah kita bangun. Ini impian saya. Impian berikutnya kita mesti bisa bersitegang dengan semangat cinta. Soalnya, tiap diri diantara kita mungkin perlu, malah wajib, meneropong diri kembali; adakah kita memang benar telah bersikap mulia ? dan benarkah orang-orang lain yang berseberangan dengan kita itu orang-orang yang tidak mulia ?

Dengan begini ketegangan demi ketegangan akan dengan sendirinya surut. Kemuliaan kita yang memancar dari kekuasaan yang agung akan bertemu dan akan kawin mawin dengan kemulyaan yang muncul dari pihak lain. Kedamaian pun akan dengan sendirinya muncul dan kedamaian itulah raja kita.

Gagasan ini mungkin sama simplitis nya dengan moral cerita Kahlil Gibran diatas. Warna moral hadir disini dengan olesan kowas tebal dan sangat menyolok. Orang,  terutama aktor politik yang terbiasa memenuhi papan catur politik dengan olesan kekerasan dan dengan aneka tipu daya, boleh tak seju dengan gagasan berwarna moral seperti itu. Tapi saya ingin lebih dulu minta bukti, kekerasan macam apa yang dalam sejarah pernah membawa rasa tentram dan membikin rakyat makmur dan alam semesta merasa tenang ? apa ? dan mana buktinya ?

Pada orang yang merasa ahli teori, ahli filsafat yang getol menggenggam pendekatan moral, disini dan disaat seperti ini pula diminta membuktikan diri bagaimana keunggulan hipotetis maupun hal-hal praktisnya ? pendekatan praktis, structural, duniawi diatas paradigma moral ?  Moral kita tahu, memang tidak bisa bekerja sendiri. Ia beroperasi diwilayah penyadaran. Ia tak bisa berbuat tapi saat ini moral itulah yang kita perlukan. Kita perlu kembali ke soal-soal sepele. Kedunia dongeng. Kedunia cerita atau ke dunia puisi macam gerak kehidupan Kahlil Gibran itu sendiri.

comment 0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan beri komentar dan komentarnya jangan bernada spam ya.

 
© 2010 SUFI UNDERGROUND powered by Blogger
Template by Fresh Blogger Templates | Blogger Tutorial | Re-Designed by: X-Lab Project