.:. Kata-Kata Mutiara Hari Ini: "Pergilah keluh, ku tak mau berteman dengamu... Silahkan kesah, kau bukan takdirku... Mujahadah adalah temanku, dakwah adalah nafasku dan Allah adalah kasihku... Maafkan segala kesalahan...Bila Allah mengampuni dosa-dosamu, kamu pasti bertobat...Bila Allah menerimamu, kamu pasti bertaqarrub dengan ikhlas kepada-Nya...Bila Allah mengingatmu, kamu pasti berdzikir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kemuliaan-Nya padamu, kamu pasti merasa hina-dina dihadapan-Nya...Bila Allah hendak mencukupimu, pasti kamu merasa faqir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kekuatan-Nya padamu, pasti engkau lemah tidak berdaya...Bila Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, pasti engkau tak memiliki kemampuan apa-apa...Bila Allah mencintaimu, kamu pasti mencintai-Nya...Bila Allah meridhoimu, engkau pasti ridho terhadap apapun ketentuan-Nya...Bila Allah mengangkat derajatmu, engkau selalu memasuki pintu-pintu taatmu...Bila Allah menghinamu, kamu pasti bermaksiat dan menuruti hawa nafsumu...Taat itu lebih utama dibanding pahalanya...Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya...Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya...Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya...Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya...Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan...Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya...Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan...Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati...Wirid itu lebih utama ketimbang waridnya...Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia " .:. ~~

SLIDE SHOW

Get Updates Via Email

Dapatkan update terbaru

dari Blog SufiUnderground langsung ke
Email anda!

FAKTA CINTA KITA KEPADA RASULULLAH S.A.W



Seorang pemuda bertanya setelah membaca beberapa hadis tentang keharusan mencintai Rasulullah Saw, "Saya ingin mencintai Nabi saw., tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya. Kalau saya merindukan seorang gadis, saya membayangkan wajahnya: bibirnya, pinggulnya, jemarinya, atau betisnya. Seperti apakah saya harus membayangkan Nabi saw?"

Pertanyaan ini menunjukkan dua hal:

Pertama, kemampuan kita mencintai sesuatu biasanya terbatas hanya pada hal-hal material, konkret, dapat diraba, dapat dilihat. Keindahan hanya terdapat pada kenampakan lahiriah. Karena itu umumnya kita suka gunung karena kehijauan pepohonannya dan kesejukan udaranya; bukan karena ketenangan dan misterinya. Kita senang buku hanya karena jenis kertas dan mutu cetaknya; bukan pada kandungan isinya. Menurut Alquran, kebanyakan kita memang terpesona pada bentuk-bentuk luar saja:

"Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka alpa dari kehidupan akhirat."  (QS. Ar-Rum (30):7).


Dalam beragama kita sering mengukur kesalihan dari gambaran ritualnya tidak pada efek sosialnya. Dalam berdoa kita hanya memohon kekayaan yang luas atau umur panjang, tidak pada posisi ubudiyahnya. Dalam berpolitik kita hanya mengutamakan pestanya ketimbang demokrasinya, pemilihannya ketimbang umumnya, dewan perwakilannya ketimbang rakyatnya. Dalam bercinta kita mendahulukan hubungan biologisnya dan mengesampingkan hubungan psikologisnya. 


Mungkin karena terpenjara oleh hal-hal sensual, kita kehilangan kepekaan pada stimulasi ruhaniah. Kita tak mampu lagi mendengar suara batin kita, Apalagi jeritan hati orang lain. Kita tidak arif lagi menangkap isyarat-isyarat halus yang diungkapkan dalam eufemisme. Ketika mendengar bahwa Nabi saw. mencintai tiga perkara (perempuan, parfum, dan salat), kita sibuk memperbincangkan pernikahan badani, keharuman tubuh, dan fikih salat. Ibn 'Arabi mengajarkan pada kita bahwa ketiga kata itu mengungkapkan secara simbolis pengalaman ruhaniah yang agung.


Kedua, cinta sensual menunjukkan tahap perkembangan kejiwaan yang paling rendah. Jika kita hanya dapat melakukan salat yang khusyuk dengan mencitrakan Tuhan dalam benak kita, atau hanya bisa mencintai Nabi saw. dengan membayangkan ketampanan wajahnya, kita belum bergerak dari tahap anak-anak (bahkan boleh jadi masih merangkak pada tingkat hewani). Cinta sensual, yang lahir karena atraksi fisik, bukan keutamaan tetapi penyakit, bukan love, tetapi lust. Bukan cinta, tapi nafsu birahi.

Pada tingkat manakah mau kita letakkan kecintaan kita kepada Rasulullah saw.? Tentu saja, tidak pada tingkat erotis. Mana mungkin kecintaan kita kepada beliau kita samakan dengan kecintaan kita kepada seorang gadis? Untuk mencintai Nabi saw., yang harus kita bayangkan bukan citra fisiknya, tetapi keagungan kepribadiannya. Pertama-tama, belajarlah menggabungkan diri kita secara rohaniah dengan Rasulullah saw., para Nabi, dan orang-orang saleh.


"Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul, maka ia akan bersama orang-orang yang telah Allah berikan kenikmatan kepada mereka, yakni para Nabi, orang-orang benar, syuhada, dan orang-orang salih. Alangkah bagusnya bergabung bersama mereka." (QS. An-Nisa' (4):69).
 
Tragedi demi tragedi yang ditunai umat Islam, mulai dari bencana dimana-mana hingga, ketika negeri-negeri Islam diserang oleh Amerika Serikat dan sekutunya, lalu berujung pada penghinaan terhadap Nabi. Karikatur, relief, gambar Nabi, telah menyeruak kemarahan umat seluruh dunia, ternyata bermuara dari persoalan sebagian kita yang tak mau belajar menggabungkan diri secara ruhaniyah bersama Rasulullah Saw.


Negeri-negeri Islam yang membujur di belahan selatan dunia, yang dikategorikan negeri miskin, ditengah arus globalisasi, semakin termiskinkan. Kekalahan structural dalam berbagai piranti, infrastruktur dan tekhnologi telah membuat umat Islam hanya menjadi sasaran konsumen negara-negara industri. Belum lagi mafia yang menguasai separo aktivitas internasional, yang menghalalkan segala cara.



Kemudian ummat terbelah menjadi kekuatan-kekuatan, kelompok-kelompok, kebudayaan-kebudayaan, tidak jarang satu sama lain saling tarik menarik dan bertentangan. Ada yang merespon dengan integralisme dan adaptasi dengan globalisasi, ada yang merespon dengan sikap moderat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar Islam, ada yang merespon dengan ketakberdayaan mengikuti arus dengan sikap acuh tak acuh atas perkembangan planet bumi. Tapi peta tersebut sangat menarik bagi dunia luar untuk memposisikan umat Islam seluruh dunia sebagai obyek, bukan sebagai subyek yang positif bagi masa depan umat manusia.
 
Tetapi mari kita jenguk kondisi ummat kita sebenarnya. Tahun-tahun seperempat abad terakhir, ummat Islam mengalami sock yang luar biasa, antara modernisasi, tradisi dan nilai-nilai agama. Diantara korban-korbannya adalah spiritualitas ummat yang mencapai titik jenuh luar biasa, sampai akhirnya terekspresikan dalam berbagai aktivitas yang cukup menyimpang dan mengerikan: Gerakan spiritual yang mengatasnamakan gerakan ruhani Islam, seperti munculnya lembaga-lembaga atau perorangan yang menjanjikan "puncak spiritual" melalui aktivitasnya. Ternyata, tidak lebih dari aktivitas metafisika, mistik dan keparanormalan yang dibungkus dengan nuansa dzikir, ilmu-ilmu hikmah tertentu dan lebih sadis lagi menggunakan sinkretisme kebatinan semua agama dalam satu format spiritual.


Dampaknya, ummat kehilangan nuansa genial yang murni dan hakiki, yang selama ini dikokohkan oleh para sufi dari zaman ke zaman mulai sejak era Nabi Muhammad Saw hingga dewasa ini. Dua pendulum yang kontra dan meruyak aktivitas luhur dunia ruhani kaum sufi pun bermunculan: Mereka ramai-ramai mengobarkan anti sufisme, karena dianggap bid'ah disatu sisi, dan disisi lain muncul kelompok penyimpang tasawuf yang mengatasnamakan dunia sufi.
 
Dua kelompok antagonis inilah yang pada saat bersamaan, merasa paling Islami dan paling benar, dan di saat yang lain meruntuhkan semangat kecintaan kepada Alah dan Rasulullah Saw, dalam arti yang sesungguhnya, bahkan dengan cara emosi, reaksi dan arogansi. Lalu semangat yang hakiki mengenai mahabbatullah dan mahabbaturrasul terbuang dalam arus pembelaan yang bernuansa pinggiran, tidak masuk dalam jantung hati yang sesungguhnya.


Mari kita jenguk jendela kita semua, agar melihat ruang batin di kedalaman jiwa kita. benarkah kita telah membuktikan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ? Benarkah kita telah mendenyutkan jantung kita setiap saat, setiap waktu, setiap ruang dan gerak bersama dzikrullah dalam hati kita ? Seberapa persen jumlah ummat Islam seluruh dunia yang melakukan aktivitas mulia dalam jiwanya ? Apakah aktivitas mulia itu hanya dilihat dari yang tampak dipermukaan dalam "teater ummat Islam" ? Dalam "Gaya Hidup Beragama" ? Dalam "sok relegi" atau style islami" di media massa dan kepentingan riya' politik ? Kenapa tidak ada upaya untuk menjenguk kegersangan demi kegersangan yang menimpa jiwa ummat ini ?
 
Rupanya ummat seperti kehilangan induk ketika berada di Padang Mahsyar. Gerakan demi gerakan, tak lebih dari sebuah kebingungan, keresahan dan ketakutan. Dihamparan Mahsyar ummat mencari Syafaat dari satu Nabi ke Nabi lain, lalu berujung pada Nabi Muhammad Saw.


Itulah fakta hari ini, pencarian cinta kepada Nabi di tengah kegersangan Mahsyar Dunia, dalam kegundahan luar biasa, lalu muncul berbagai image, dalam berbagai bentuk, antara lain: (1). Dengan menyatakan sebagai pembela Nabi SAW, tetapi tidak mencintai Nabi SAW dalam arti yang hakiki. (2). Menyatakan sebagai pembela ahlul Bait sebagai ideology dan organisasi saja. (3). Memanggil-manggil Nabi dengan jeritan-jeritan sebagai aktivitas ritual, dan menganggapnya sebagai puncak spiritual. (4). Merasa mendapatkan wahyu dari malaikat, lalu mengaku sebagai Nabi Baru, yang selaras dengan Nabi Muhammad Saw. (5). Memanfaatkan simbol-simbol Kenabian sebagai gerakan massal, yang akhirnya berujung pada ekonomi dan politik. (6). Merasa paling dekat dengan Nabi, lalu dijadikan simbol spiritual, hanya karena nasab dan keturunan. (7). Merasa paling Islami dengan cara meniru gaya hidup lahiriyah Nabi, syariat Nabi, sementara qalbu Nabi, hakikat Islam, Ruhul Islam, tidak dijadikan teladan, akhirnya hanya menuai kefasikan dan kegersangan hati. 


Faktanya, kelompok-kelompok itu tidak mencintai Nabi dalam arti sesungguhnya, sehingga syafaat Nabi untuk umat Islam di dunia, tidak bisa mereka terima secara total sebagaimana di suasana di padang mahsyar kelak.
 
Coba dikalkulasi dalam statistic. Berapa persen dari jumlah ummat Islam seluruh dunia yang masih terus membaca sholawat Nabi setiap harinya ? Berapakali setiap hari mereka membaca sholawat nabi ? Apakah sholawat Nabi hanya dibaca setiap sholat oleh karena dalam sholat ada bacaan sholawat ? Apakah sholawat Nabi hanya dibaca ketika ada maulid Nabi ? Apakah sholawat Nabi hanya jadi nyanyian-nyanyian dan ekspresi seni dan hiburan, sebagaimana dalam gerakan musikalisasi sholawat ? Benarkah bibir anda menggetarkan sholawat sepanjang saat ? Benarkah "rasa" sholawat telah menghunjam dalam kecintaan luhur di jantung hati anda ? Benarkah anda merasakan kedekatan Nabi dengan diri anda, seakan-akan Nabi di hadapan anda ? Apakah anda mencintai sekedar sebagai statemen, pengakuan, lips service atau memang sampai pada kecintaan dalam keyakinan, haqqulyaqin di hati ? 


Mari kita mengingat apa yang dikatakan Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam kitab Al-Hikam, "Apa yang muncul dalam fenomena lahir sesungguhnya akibat dari fenomena batin." Jika batin kita tidak mencintai Nabi atau sekedar "beban kewajiban" saja bersholawat nabi, maka yang muncul di fenomena lahiriah hanyalah kecintaan plastic yang palsu atas Nabi Saw. Jika hati kita tak pernah beruntun mendetakkan sholawat Nabi, maka sholawat yang kita ungkapkan pada Nabi hanyalah ekspresi kering dari bibir kita yang tak pernah basah dengan dzikir dan sholawat.
 
Jangan sampai kita merasa membela nabi, tapi jiwa kita tidak pernah bersholawat Nabi. Jangan sampai kita merasa meneladani nabi, tapi kesombongan, riya', pengakuan-pengakuan menjadi gaya hidupnya yang dibungkus ke-islaman-nya untuk menyembunyikan kemunafikannya. Jangan sampai anda merasa memakai baju-baju, ornament, life style seperti nabi, namun sesungguhnya baju hakiki, ornament jiwa, life style ruhani yang sesungguhnya compang-camping di jiwa anda. 


Jika hal itu tetap ada pada diri kita, maka cobaan demi cobaan di Padang Mahsyar dunia ini, senantiasa merobek sejarah kita, mengoyak kemuliaan Nabi, merobohkan istana yang sesungguhnya dalam jiwa kita. Innaalillaahi wainnaa ilaihi rooji'uun ! Mari kita gerakkan jantung kita, bersama Allah dan Rasul-Nya, kapan, dimana, bagaimana, dalam kondisi apa, dalam situasi apa, agar syafaat beliau melimpah dengan Cahaya, dan kita saksikan bersama: "Tidaklah Kami mengutus-mu, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta…"        
 
Akhirnya, perhatikan bagaimana Alquran menggambarkan Nabi Saw. kepada kita: 


"Telah datang kepadamu seorang Rasul dari antara kamu. Berat baginya apa yang kamu derita, sangat ingin agar kamu mendapat kebahagiaan. Ia sangat pengasih dan penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. At-Taubah (9):128).
 
Inilah Nabi yang membasahi janggutnya dengan air matanya karena memikirkan derita umat sepeninggalnya, yang merebahkan dirinya di atas tanah dan tidak mengangkatnya sebelum Allah mengizinkannya untuk memberikan syafaat kepada umatnya, yang suka dukanya terpaut dengan umat yang dipimpinnya.


Mari kita isi ruang batin kita dengan mendenyutkan jantung kita setiap saat, setiap waktu, setiap ruang dan gerak dengan dzikrullah dan shalawat rasul. Mari kita kobarkan semangat kecintaan kepada Allah dan Rasulullah dalam arti yang sesungguhnya, bukan dengan cara emosi, reaksi dan arogansi. Jangan sampai kita merasa membela nabi, tapi jiwa kita tidak pernah bersholawat Nabi.
 

 
 


 

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar dan komentarnya jangan bernada spam ya.

 
© 2010 SUFI UNDERGROUND powered by Blogger
Template by Fresh Blogger Templates | Blogger Tutorial | Re-Designed by: X-Lab Project