.:. Kata-Kata Mutiara Hari Ini: "Pergilah keluh, ku tak mau berteman dengamu... Silahkan kesah, kau bukan takdirku... Mujahadah adalah temanku, dakwah adalah nafasku dan Allah adalah kasihku... Maafkan segala kesalahan...Bila Allah mengampuni dosa-dosamu, kamu pasti bertobat...Bila Allah menerimamu, kamu pasti bertaqarrub dengan ikhlas kepada-Nya...Bila Allah mengingatmu, kamu pasti berdzikir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kemuliaan-Nya padamu, kamu pasti merasa hina-dina dihadapan-Nya...Bila Allah hendak mencukupimu, pasti kamu merasa faqir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kekuatan-Nya padamu, pasti engkau lemah tidak berdaya...Bila Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, pasti engkau tak memiliki kemampuan apa-apa...Bila Allah mencintaimu, kamu pasti mencintai-Nya...Bila Allah meridhoimu, engkau pasti ridho terhadap apapun ketentuan-Nya...Bila Allah mengangkat derajatmu, engkau selalu memasuki pintu-pintu taatmu...Bila Allah menghinamu, kamu pasti bermaksiat dan menuruti hawa nafsumu...Taat itu lebih utama dibanding pahalanya...Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya...Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya...Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya...Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya...Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan...Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya...Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan...Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati...Wirid itu lebih utama ketimbang waridnya...Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia " .:. ~~

Get Updates Via Email

Dapatkan update terbaru

dari Blog SufiUnderground langsung ke
Email anda!

Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-umat beragama.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, mereka menyambut bulan suci itu dengan beragam cara; mulai dari sekedar mengirim sms (layanan pesan cepat) permintaan maaf ke sejumlah kolega hingga membentang spanduk dan poster yang berisi ucapan selamat atas datangnya bulan yang sarat berkah itu (syahr mubarak).Bahkan, perempuan yang tak lazim menggunakan jilbab pun mengisi Ramadan dengan busana yang membalut seluruh tubuh. Di mana-mana kita menyaksikan orang-orang memakai baju koko sehingga tampak lebih islami dan religius. 


Tabung televisi yang semula mengandung pertunjukan dangkal makna tiba-tiba berubah dengan spiritualisme. Layar kaca penuh dengan siraman ruhani. Mesjid-mesjid serta mushalla semarak dengan kultum (kuliah tujuh menit) dari para ustadz. Suasana itu kian menebalkan kesan bahwa umat Islam sedang berada dalam “peristiwa spiritual” yang dahsyat. Tampaknya mereka sedang meresapi sebuah hadits yang menyebutkan, “barang siapa yang bersuka cita dengan kehadiran bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan tubuh yang bersangkutan tersentuh api neraka” (man fariha bi dukhuli Ramadlan harrama Allah jasadahu `ala al-niyran). 

Bagi umat Islam, puasa yang wajib adalah puasa sepanjang bulan Ramadan. Secara etimologis, Ramadhan sendiri berarti terik, panas, terbakar. Ini mengandung beberapa pengertian.

Pertama, bahwa Ramadhan akan membakar dosa seseorang pada Tuhan. Itu sebabnya, bulan Ramadhan disebut sebagai bulan ampunan (syahrul maghfirah). Nabi Muhammad bersabda, “sesungguhnya Allah telah mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan, dan saya menetapkannya sebagai salah satu sunnahku. Maka, barangsiapa yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan penuh, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya seperti seorang anak yang baru keluar dari rahim ibundanya”.

Hadits lain menyebutkan bahwa minggu pertama bulan Ramadhan adalah minggu ampunan atas dosa-dosa. Tentu saja, dosa yang akan diampuni itu hanyalah dosa yang terkait antaranya dirinya dengan Allah (hablun min Allah). Sementara dosa privat terhadap sesama manusia tak bisa diampuni kecuali terlebih dahulu meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Itu sebabnya, ketika mau memasuki Ramadan, maka SMS dan surat permintaan maaf itu banyak dilakukan umat Islam. Namun, penting ditekankan, dosa publik seperti korupsi bisa terampunkan sekiranya sebuah sanksi hukum telah dijatuhkan untuk si koruptur tersebut. Menurut para ahli fikih Islam, tindakan korupsi tak diampuni hanya dengan menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Kedua, bahwa Ramadhan juga membakar perut yang sedang berpuasa. Selama berpuasa umat Islam tak diperbolehkan makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan berpuasa, orang kaya yang tak pernah lapar ikut merasakan kelaparan yang senantiasa mendera hari demi hari orang miskin di luar Ramadhan. Karena itu, di bulan Ramadhan umat Islam diperintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah yang diperuntukkan terutama buat kaum fakir dan miskin.

Menurut Abu Hanifah, zakat fitrah tak harus diberikan kepada sesama muslim, melainkan juga bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim yang fakir dan miskin. Bahkan, al-Mahdawi berpendapat bahwa dibolehkan bagi umat Islam untuk memberikan zakat kepada orang Musyrik yang miskin. Inilah saya kira salah satu makna dari Islam sebagai rahmatan lil alamin

Ketiga, bahwa Ramadhan potensial membakar hawa nafsu duniawi orang yang berpuasa. Dengan demikian, orang yang menjalankan ibadah puasa bukan orang yang rakus dan tamak. Ia bisa menahan diri dari kecenderungan hedonistik. Sebab, kita semua mengerti bahwa makin tingginya angka korupsi dan penyelewengan di negeri ini bukan karena para pelakunya lapar dan miskin, melainkan karena rakus dan tamak. Para pejabat tinggi masih korupsi walau gajinya berpuluh juta rupiah. Ramadan mendidik kita untuk tak terus memperturunkan keserakahan dan ketamakan. Orang bijak nan arif berkata,  kekayaan bumi Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruhwarganya, tapi tak memadai untuk menuruti keinginan dan nafsu satu orang penghuninya. 

Puasa dan Kerukunan
Apa sebenarnya makna puasa bagi umat Islam Indonesia dan negeri Indonesia yang plural ini? Semua pelajar Islam tahu, al-Qur’an menegaskan bahwa ibadah puasa tak murni dari Islam. Para ulama ushul fikih memasukkan puasa ke dalam salah satu ajaran yang didasarkan pada syariat pra-Islam (syar`u manqablana). Sebab, umat-umat sebelumnya memang sudah biasa menjalankan puasa untuk mencapai derajat ketakwaan. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”.

Imam Al-Quthubi dalam bukunya al-Jami` li Ahkam al-Qur’an (Juz I, hlm. 672) menyatakan bahwa umat Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa telah mempraktekkan ibadah puasa, walau dengan waktu dan tata cara yang mungkin berbeda dengan yang dilaksanakan umat Islam. Satu bukti, dalam Perjanjian Baru misalnya disebutkan, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik..” (Matius: 6:16).

Sebuah hadits sahih menyebutkan, ketika pertama kali datang ke Madinah, Nabi mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. (Shahih Bukhari, hadits ke 3942 dan 3943). Hadits lain menyebutkan, orang-orang Quraisy sebelum Islam terbiasa melakukan puasa Asyura. Dan Nabi memerintahkan umat Islam berpuasa pada hari Asyura hingga turun perintah yang mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan.

Dikisahkan, puasa pada hari Asyura ini dilakukan Nabi sebagai bukti penghargaan terhadap kaum Yahudi dan terhadap Nabi Musa. Itu berarti bahwa puasa merupakan ibadah lintas agama. Puasa juga mengandung makna penghargaan terhadap umat agama lain. Dengan demikian, umat Islam yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa adalah mereka yang kian toleran dan respek terhadap umat agama lain. Orang yang berpuasa tak akan membakar rumah ibadah umat agama lain dan tak menghancurkan mesjid orang-orang Islam yang dianggap menyimpang. 
 
Jika dieksplisitkan, orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-umat beragama.

Akhirnya, walau yang melakukan ibadah puasa Ramadhan itu hanya umat Islam, sudah semestinya yang ikut merasakan efek positif dari puasa Ramadan adalah seluruh warga bangsa di Indonesia ini.

comment 0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan beri komentar dan komentarnya jangan bernada spam ya.

 
© 2010 SUFI UNDERGROUND powered by Blogger
Template by Fresh Blogger Templates | Blogger Tutorial | Re-Designed by: X-Lab Project