.:. Kata-Kata Mutiara Hari Ini: "Pergilah keluh, ku tak mau berteman dengamu... Silahkan kesah, kau bukan takdirku... Mujahadah adalah temanku, dakwah adalah nafasku dan Allah adalah kasihku... Maafkan segala kesalahan...Bila Allah mengampuni dosa-dosamu, kamu pasti bertobat...Bila Allah menerimamu, kamu pasti bertaqarrub dengan ikhlas kepada-Nya...Bila Allah mengingatmu, kamu pasti berdzikir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kemuliaan-Nya padamu, kamu pasti merasa hina-dina dihadapan-Nya...Bila Allah hendak mencukupimu, pasti kamu merasa faqir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kekuatan-Nya padamu, pasti engkau lemah tidak berdaya...Bila Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, pasti engkau tak memiliki kemampuan apa-apa...Bila Allah mencintaimu, kamu pasti mencintai-Nya...Bila Allah meridhoimu, engkau pasti ridho terhadap apapun ketentuan-Nya...Bila Allah mengangkat derajatmu, engkau selalu memasuki pintu-pintu taatmu...Bila Allah menghinamu, kamu pasti bermaksiat dan menuruti hawa nafsumu...Taat itu lebih utama dibanding pahalanya...Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya...Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya...Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya...Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya...Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan...Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya...Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan...Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati...Wirid itu lebih utama ketimbang waridnya...Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia " .:. ~~

Get Updates Via Email

Dapatkan update terbaru

dari Blog SufiUnderground langsung ke
Email anda!

Tiga Ancaman Tuhan

By: Prof. DR. KH. Jalaluddin Rahmat

Al-Fakhr al-Razi meriwayatkan kejadian yang dialami seorang penceramah. Pada satu pertemuan ia berkata,
"Apabila seseorang bermaksud untuk bersedekah, 70 setan akan datang. Mereka akan bergelantungan pada tangan dan kakinya, merintanginya untuk bersedekah." Ketika mendengar ini, seseorang di antara hadirin berkata, "Akan kuperangi 70 setan itu."

Kemudian ia meninggalkan masjid, kembali ke rumahnya, dan mengisi kantong kainnya dengan gandum. Ia bertekad untuk menyedekahkan gandum itu. Istrinya datang, mengajaknya bertengkar, dan melawannya sehingga gandum itu berceceran. Laki-laki itu kembali ke masjid dengan tangan hampa. Penceramah bertanya, "Apa yang telah Anda lakukan?" Ia menjawab, "Saya berhasil mengalahkan 70 setan. Tetapi, induknya datang. Ia berhasil mengalahkan ku." (Al-Fakhr al-Razi 1:95)


Peristiwa ini mungkin hanya sebuah parody. Al-Fakhr al-Razi ingin menegaskan bahwa ada dua macam setan: yang tampak dan yang bersembunyi. Kadang-kadang setan yang kelihatan lebih berat untuk dilawan. Setan jenis kedua ini mungkin berupa istri (suami), anak-anak, kawan sekantor, atau tetangga. Kekuatan mereka boleh jadi 70 kali lebih besar dari kekuatan setan yang tidak kelihatan.

Anehnya, tidak jauh dari kisah di atas, Al-Fakhr al-Razi juga membedakan dua macam musuh: musuh lahir dan musuh batin. Memerangi musuh batin jauh lebih berat. Musuh lahir biasanya berkenan dengan harta dunia; musuh batin menyangkut agama dan keyakinan. Kalau kita kalah melawan musuh lahir, kita mendapat pahala. Kalau mati dalam perlawanan itu, kita mati syahid. Apabila musuh batin mengalahkan kita, kita jauh dalam kebinasaan. Untuk melawan musuh batin, dengan lidah dan kalbu kita harus selalu mengucapkan, "Aku berlindung kepada Allah dari Setan yang terkutuk."

Setan hadir menyerang kita di rumah, di tempat bekerja, di jalan-jalan, atau di medan pertempuran. Setan batin menyerbu langsung ke dalam kalbu kita. Karena hati lebih luas dari langit dan bumi, pertempuran melawan setan batin jauh lebih dahsyat dari perang lahir. Inilah jihad akbar melawan setan besar. Bahkan kita tidak akan dapat melakukan jihad kecil, perang melawan musuh lahir, apabila kita kalah dalam jihad akbar. Apabila kita berhasil mengusir setan besar, kita akan mempunyai qalbu salim.

Pada hari itu tiada guna harta dan anak-anak. Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan qalbu salim. (Al-Syu'ara 88-89).

Salim artinya bersih, sehat dan selamat dari akidah yang fasid dan akhlak yang tercela. Setan-setan besar yang harus diusir dari hati dapat berupa syirk (kepada Allah) atau dengki (kepada manusia).

Ketika menjelaskan makna hadis yang mengatakan, "hati itu taman Tuhan dalam diri manusia", Al-Fakhr al-Razi menulis:

"Allah Swt berfirman 'Wahai hamba-Ku, telah Kujadikan taman surga bagimu dan engkau pun telah memperuntukkan tamanmu untuk-Ku. Tetapi renungkanlah, apakah telah kau lihat taman-Ku sekarang? Apakah engkau sudah masuk ke dalamnya?' Si hamba berkata, 'Tidak, ya Rabbi,' Allah Swt berfirman lagi, 'Apakah Aku sudah masuk ke dalam tamanmu?' Tentu si hamba akan menjawab, 'Sudah, ya Rabb,' Tuhan bersabda, 'Ketika engkau hampir masuk ke taman surga-Ku, Aku keluarkan setan dari taman-Ku, semuanya untuk mempersiapkan kehadiranmu.' Aku berkata kepadanya, 'Keluarlah kamu dari sini dalam keadaan hina-dina. Aku keluarkan musuhmu sebelum kamu masuk ke situ. Sekarang apa yang kamu lakukan ? Aku sudah berada di tamanmu tujuh puluh tahun. Mengapa belum juga kau keluarkan musuh-Ku ? Mengapa belum kau usir dia?' Pada waktu itu si hamba berkata, "Tuhanku, Engkau berkuasa untuk mengeluarkan dia dari taman-Mu. Tetapi, aku hamba yang rentan dan lemah. Aku tidak kuasa mengeluarkannya.' Allah berfirman, 'Orang lemah akan menjadi kuat apabila ia memasuki perlindungan Raja Yang Perkasa. Masuklah dalam Perlindungan-Ku sehingga engkau sanggup mengeluarkan setan dari taman hatimu. Ucapkanlah: Aku berlindung kepada Allah dari Setan yang terkutuk. (Al-Fakhr al-Razi 1:99).

Alquran adalah Firman Tuhan. Tidak ada cara yang paling baik untuk mendatangkan Tuhan ke dalam hati kita kecuali dengan apa yang datang dari Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan bersabda,

"Apabila kamu membaca Alquran, maka berlindunglah kamu kepada Allah dari setan yang terkutuk." (Al-Nahl 98).

Kali ini kita diliputi oleh keprihatinan yang mendalam. Awan kelabu bergayut di langit negeri ini. Ribuan orang mati mengenaskan karena penyakit dan kesengsaraan. Tidak terhitung anak-anak yang sel-sel otak nya rusak, matanya sayu, perutnya kembung, karena kekurangan gizi dan kelaparan. Kepala kita pusing, perut kita lapar, hati kita ketakutan. Hukum tidak lagi dapat memberikan perlindungan. Tidak ada lagi jaminan keamanan. Tiba-tiba negeri kita menjadi rimba belantara, kita terhimpit sekaligus oleh bahaya maut disekitar kita dan beban kemiskinan.

Tiba-tiba kita mendengar ancaman Allah SWT: "Katakan, Allah berkuasa untuk mengirimkan kepadamu adzab dari atas kamu, dari bawah kakimu atau Allah membingungkan kamu dalam pertikaian berbagai golongan dan membuat kamu saling merasakan keganasan sesama kamu. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat Kami mudah-mudahan mereka memahaminya." (Q.S Al-An'am (6): 65).

Allah mengancam kita dengan tiga macam adzab: adzab dari atas, adzab dari bawah, dan adzab dari antara kita karena perpecahan. Adzab dari atas bisa berupa taufan ganas yang membakar hutan, atau badai yang menurunkan hujan yang membawa petaka, atau kehancuran lapisan ozon yang mengakibatkan efek rumah kaca, atau virus yang disebarkan udara dan mengancam kehidupan kita.

Pada umat terdahulu, adzab itu berupa halilintar yang menghancurkan penentang nabi Luth a.s atau butir-butir api yang memporakporandakan tentara gajah, Ash-haabilfiil. Adzab dari bawah bisa muncul dalam bentuk banjir seperti yang menenggelamkan umat nabi Nuh a.s atau gempa bumi seperti yang menenggelamkan Qarun (Tafsir Fakhr al-Razi 7:24).

Ibnu 'Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan adzab dari atas adalah siksaan karena kekejaman para pemimpin, kelaliman para pembesar negara, atau keserakahan orang-orang diatas kita.

Adzab dari bawah adalah kekejaman yang dilakukan oleh rakyat dari kelas bawah berupa kerusuhan, kekacauan, perampokan, penodongan, penjarahan. Sedangkan adzab sesama kita adalah perpecahan yang menimbulkan bentrokan antara golongan, saling membunuh, saling menyerang dan saling membinasakan. Untuk adzab yang ketiga, terjemahan bahasa Inggrisnya lebih menakutkan lagi, "to cover you with confusion in party strife, and make you to taste the violence of one another",  menutup kamu dengan kebingungan dalam pertentangan partai dan memaksa kamu merasakan kekerasan yang dilakukan satu sama lain (The Noble Quran: 178).

Menurut Jabir bin Abdillah, ketika Rasulullah Saw membaca ayat, "Katakan, Allah berkuasa untuk mengirimkan kepada kamu adzab dari atas kamu,  beliau juga berdoa: "A'udzu bi wajhik". Ketika sampai pada  atau Allah membingungkan kamu dalam pertikaian berbagai golongan dan membuat kamu saling mersakan keganasan sesama kamu,  beliau berkata, "Ini lebih ringan dan lebih mudah." Kata Jabir, "Lebih ringan dan lebih mudah itu untuk Allah. Bagi manusia, yang ketiga itu lebih berat karena terjadi setelah menerima dua siksa yang pertama." (Tafsir al-Durr al-Mantsur 3:17).

Kini kita sedang berhadapan dengan tiga ancaman Allah Swt yang menakutkan. Bencana alam mengintip kita dimana-mana. Di hadapan kita bergulung awan malapetaka. Kita tidak punya daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah. Kita tidak punya harapan apa pun untuk melindungi diri kita dari adzab itu kecuali dengan menggantungkan diri kita pada kasih sayang Allah.

comment 0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan beri komentar dan komentarnya jangan bernada spam ya.

 
© 2010 SUFI UNDERGROUND powered by Blogger
Template by Fresh Blogger Templates | Blogger Tutorial | Re-Designed by: X-Lab Project