.:. Kata-Kata Mutiara Hari Ini: "Pergilah keluh, ku tak mau berteman dengamu... Silahkan kesah, kau bukan takdirku... Mujahadah adalah temanku, dakwah adalah nafasku dan Allah adalah kasihku... Maafkan segala kesalahan...Bila Allah mengampuni dosa-dosamu, kamu pasti bertobat...Bila Allah menerimamu, kamu pasti bertaqarrub dengan ikhlas kepada-Nya...Bila Allah mengingatmu, kamu pasti berdzikir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kemuliaan-Nya padamu, kamu pasti merasa hina-dina dihadapan-Nya...Bila Allah hendak mencukupimu, pasti kamu merasa faqir kepada-Nya...Bila Allah menunjukkan kekuatan-Nya padamu, pasti engkau lemah tidak berdaya...Bila Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, pasti engkau tak memiliki kemampuan apa-apa...Bila Allah mencintaimu, kamu pasti mencintai-Nya...Bila Allah meridhoimu, engkau pasti ridho terhadap apapun ketentuan-Nya...Bila Allah mengangkat derajatmu, engkau selalu memasuki pintu-pintu taatmu...Bila Allah menghinamu, kamu pasti bermaksiat dan menuruti hawa nafsumu...Taat itu lebih utama dibanding pahalanya...Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya...Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya...Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya...Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya...Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan...Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya...Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan...Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati...Wirid itu lebih utama ketimbang waridnya...Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia " .:. ~~

Get Updates Via Email

Dapatkan update terbaru

dari Blog SufiUnderground langsung ke
Email anda!

MENCINTAI MU, YA ALLAH.......


Oleh: DR. Mohammad Luqman Hakiem, MA

Inilah jalan Cinta yang ditempuh para pencinta Allah. Jalan perjuangan, juga jalan yang penuh dengan rintangan sekaligus jalan kemenangan yang sesungguhnya. Jalan keabdian. Lalu para sufi hanya bisa menggambarkan jalan-jalan Cinta itu melalui metafor-metafor, lagu-lagu, dan syair-syair, hanya karena tak ada lagi ucapan dan bahasa yang bisa mengungkapkan dari sebuah kebisuan hati, ketika bertemu dengan Sang Kekasih Hakiki.

Kita semua sudah pernah mendengar “Nyanyian Sunyi” kerinduan Rabi’ah al-Adawiyah yang bergelora sepanjang masa. Kita pun senantiasa tak habis-habisnya memuji gambaran Cinta Ibnul Faridh, si Pangeran Cinta yang tak ada bandingnya dalam sejarah Cinta para sufi, dan mengilhami para “pemburu Cinta Ilahi” dimanapun jua. Lalu susul menyusul bagaikan gelombang lautan, ketika rintihan Cinta itu harus berakhir di pantai-pantai kedahagaan, dengan suara gebyar kemabukan arak Mahabbatullah yang tertuang di gelas-gelas piala bidadari. Jalaluddin Rumi yang penuh gairah, Omar Khayyam yang penuh nestapa, bahkan Iqbal yang tak puas-puasnya.


Masih berjuta para sufi yang hanya bisa menyembunyikan mutiara-mutiara Cinta-Nya yang bergelora dalam dadanya. Sebagai Mutiara Rahasia, Cinta Ilahi tak bisa disebutkan dengan ucapan atau kata-kata, bahkan suara-suara. Para sufi sepertinya menahan gelora Cinta itu dalam dekapan dadanya, sembari mengeluarkan kembang airmata kelembutan dan keharuan, seperti mawar jingga yang mekar di pagi hari, ketika cahaya matahari mencium kuncup-kuncupnya. Lalu mekar dengan cahaya cintanya, dalam kebisuan abadi. Lalu Allah Ta’ala menjumpai para pecinta itu, “Adapun orang-orang yang beriman, benar-benar dalam kedasyatan cinta kepada Allah.” (Q.S. 165). Dan, “Allah Mencintai mereka, dan mereka pun mencintai-Nya.” (Q.S. al-Maidah: 54).

Cinta adalah mustika, juga mutiara-mutiara, bahkan nyanyian bisu yang menusuk dinding-dinding samawat sampai ke Sidratul Muntaha. Cinta adalah jutaan burung yang terbang tanpa sayap, tanpa bulu, tanpa kepak yang mengibas ke angkasa, lalu menembus cakrawala Ilahiyah dalam tengadah doa-doa, bahkan dalam ketakberdayaan fana’-nya, dalam fana’-nya menuju keabadian-Nya. Lalu tak ada lagi yang bisa di mawjud-kan dari Wajah Yang Maha Indah, dari Keindahan Paripurna Keagungan-Nya, dan Keagungan kemahaindahan Paripurna-Nya.

Sampai Rasul SAW yang tercinta, menengadahkan dua hastanya, “Tuhan, limpahkanlah rizki mencintai-Mu, dan mencintai orang yang mencintai-Mu, bahkan mencintai segala yang mendekatkanku pada cinta-Mu. Jadikanlah, Tuhan, Diri-Mu lebih kucinta dibanding air yang sejuk.” Lalu Allah Ta’ala menyambutnya dengan pelukan rindu dendam keabadian, karena Dia telah dipandang dengan mata ma’rifat kekasih-kekasih-Nya. Lalu sebuah kegembiraan yang memenuhi maya pada, ketika Sang Rasul SAW bersabda, “Seseorang akan bersama yang dicintainya.” Seperti sorak gembira yang tiada tara, sebagaimana diungkapkan oleh sahabat Anas r.a, “Tak ada kiranya yang melebihi pesta kegembiraan ini di mata ummat Islam, melainkan berita yang disampaikan oleh Rasul itu (seseorang akan bersama yang dicintainya)”.

Sungguh, kedasyatan Cinta itu, telah membawa tarian semesta ini, seperti gerak rancak yang gemulai dalam senandung musik Ilahiyah yang sempurna. Bagaimana tidak, ketika kita sebut Kekasih-Nya, Muhammad Rasul SAW yang tercinta tiba-tiba segalanya mekar bagai bunga, lalu membentuk jadi kauniyah, lahiriah dan batiniyah kita semua. Bagaimana tidak, sehari semalam kita selalu senandungkan ungkapkan Cinta kasih dan kedamaian abadi lewat getaran-getaran miliaran bibir yang menyanyikan shalawatan dan salam kepada kekasih-Nya itu. Shalawat dan salam yang kita ungkapkan lewat bibir-bibir mungil para bayi yang tersenyum dengan mata telanjang bening berbinar, lebih dari kejujuran hati kita masing-masing. Sampai Nabi SAW menyebutkan, “Tak seorang pun akan menggapai kesempurnaan imannya, sampai Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya, ketimbang keluarga, harta dan sesama manusia.”

Tiba-tiba setelah itu, segala yang muncul nafas para hamba, dari detak jantung para pencinta-Nya, dari detak jantung para perindu-Nya, dalam sauh rasa yang mencekam, karena menahan keharuan indahnya Cinta, adalah kebajikan-kebajika n sejati yang mawjud dalam gerak dan ucapan, kebajikan hidup ini, dan kebajikan kehidupan di akhir nanti. Sebuah Peradaban Cinta yang luhur dan agung, sampai diperjuangkan dengan darah dari bekaman air mata, atau pun dari airmata yang tersaring dari beningnya darah perjuangan kita semua. Sebab setelah itu, keringat yang menetes dari peluh tubuh kita, adalah mutiara-mutiara bening dari getaran jantug kecintaan, dari sungai yang mengalir menuju Lautan cinta Sang Kekasih, dari gairah yang tak henti-hentinya, dari airmata di puncak bukit kemakhlukan, para titik air kehambaan.

“Wahai Jibril!”. Tiba-tiba suara Allah bergelora memenuhi langit bumi seisinya. “Aku telah mencintai seseorang, maka cintailah dia!”. Lalu Jibril pun mencitai orang itu, bahkan Jibril menggelorakan cintanya melalui ungkapannya yang agung di seluruh langit, “Wahai … Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencintai seorang hamba ini.” Lalu gemuruh cinta bertaburan dari penghuni langit melimpahi sang hamba itu, dan penghuni bumi pun menerima sepenuhnya.” Tapi jika Allah ‘Azza wa Jalla membenci seorang hamba, hanya dia katakan, “Entahlah, Aku tak peduli padanya…”.

Para sufi lalu membuat lukisan cinta itu, dengan ungkapan-ungkapan surrealis yang indah. Mereka katakan, Cinta-Nya kepada hamba merupakan salah satu dari menfestasi Af’al-Nya, yaitu kebajikan spesial yang bertemu antara Dia dengan hamba-Nya, sekaligus juga kondisi anugerah ruhani yang membubung pada cinta itu. Cinta adalah dendam kebimbangan hati yang abadi. Cinta adalah segalanya bagi yang dicintai, malampaui apa saja yang dekat denganya. Cinta adalah keselarasan jiwa, baik alam nyata maupun alam ghaib. Cinta adalah terhangusnya pecinta karena Sifat-sifat-Nya, dan kemandirian Yang Dicinta dengan Dzat-Nya. Cinta adalah langkah-langkah jalan kalbu bagi hasrat Rabbnya. Cinta adalah ketakutan-ketakutan untuk kehilangan kehormatan cinta dengan segala bakti sepenuhnya. Bahkan Abu Yazid al-Bisthami mengatakan, “Cinta adalah menganggap kecil dan sedikit apa saja yang kau anggap banyak dalam dirimu, lalu menganggap banyak apa saja yang sedikit dari Sang Kekasih.”Cinta adalah api, telah membakar seluruh apa saja, diluar yang dicintainya.

Cinta pun tidak dibenarkan kecuali pecinta keluar dari melihat kecintaan, menuju pandangan yang dicinta, dengan kefanaan pengetahuan cinta itu sendiri. Lalu begitu dasyatnya al-Junaid al-Baghdadi menggoreskan lukisan Cintanya, “Cinta adalah merasuknya predikat dan sifat Sang Kekasih, menggantikan segala sifat Sang pecinta.” Lalu tak ada lagi yang bisa diucapkan, diingat, dikenang, kecuali sang kekasih itu.

Seandainya saja seluruh gemuruh dan gelora cinta seluruh makhluk ini dikumpulkan jadi satu, tak ada bandingnya sedikit pun dibandingkan limpahan Cinta Ilahi pada para hamba-Nya. Karena itu janganlah seorang hamba menyatakan, bahwa dirinya telah mencapai batas kecintaannya kepada Allah ta’ala pun tak bisa disebut sebagai obyek dari keasyikan ma’syuq hamba atau pun hamba disebut telah sampai pada batas kemaksyukan cintanya. Wallahu a’lam, tiada tara.

Karena Abu Ya’qub as-Susi, sempat berkata, hakikat Cinta itu, hendaknya hamba melupakan bagian-bagian anugerah dari Allah ‘Azza wajalla, bahkan melupakan segala kebutuhan dirinya kepada-Nya. Karena itu Syekh Abdul Ghafur menandaskan, “Cintaku kepada-Mu ya Allah, adalah Cinta-Mu kepadaku…”

Mari kita buka lagi sebuah gemuruh itu dari dalam dada kita. Sebab Cinta itu akan membuahkan buah, mengembangkan bunga, menumbuhkan ranting dan daun-daun yang ranum. Buah cinta adalah kerinduan dua rasa ridla kepada-Nya. Bunga cinta adalah kepasraan dan kenangan abadi yang tak mau dipisahkan dalam dendam rindunya. Rasa syukur yang terus-menerus tanpa henti-hentinya, rasa tak tak berdaya dalam istislam pada Sang kekasih, seonggok hati yang dikumpulkan dari keringat, darah dan airmata untuk Sang Kekasih. Itulah daun dari ranting-ranting yang menjulang di langit dari Syajarah Thayyibah (pohon yang baik), yang tumbuh dari biji-biji Mahabbah, kelak menumbuhkan Pohon Ma’rifat yang sesungguhnya.

Seorang penyair sufi memandang sebuah ayat Ilahi, lalu menafsirkan dalam bait-baitnya: “Wahai orang-orang yang telah Kucinta// Apa yang memperdayaimu// Sampai dirimu kehilangan ras cinta-Ku?/ Yang melimpah dari Pemurahan-Ku?”.Karena itu, bukalah jendela-jendela hatimu. Bukalah pintu-pintu jiwamu. Bukalah gerbang-gerbang akal dan fikiranmu. Bukalah lambang-lambang pengetahuanmu, agar cahaya yang memendar abadi dari kecintaan Ilahi, memasuki relung-relungmu, memenuhi seluruh dinding hatimu, mengembangkan bibir mungil dari bayi suci fitrahmu.

Pintalah Cinta-Nya dan Ma’rifat-Nya, agar memenuhi jiwamu. Namun, agar Jalan Cinta di depanmu begitu lempang ke Istana cinta-Nya, raihlah tangan-tangan suci yang telah dilimpahi Cinta dan Ma’rifat-Nya, agar bisa membimbingmu ke Jalan Cinta yang sesungguhnya. Tangan-tangan para Kekasih-Nya.

comment 0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan beri komentar dan komentarnya jangan bernada spam ya.

 
© 2010 SUFI UNDERGROUND powered by Blogger
Template by Fresh Blogger Templates | Blogger Tutorial | Re-Designed by: X-Lab Project